“Suamiku Ingin Kawin Lagi”


“Nggak ada angin, nggak ada hujan, suamiku mau kawin lagi”

SMS singkat itu ditunjukkan teman sekantor tadi sore. Bukan bercerita tentang dirinya, tapi SMS kiriman dari seorang sahabatnya di Indramayu. Kepadaku, rekan samping mejaku itu mengaku kaget!. Menurutnya, selama ini ia selalu mendapat SMS bernada hepi, ceria, dan bahagia. Tak sekalipun sahabatnya itu mengeluh atau bercerita tentang permasalahan rumah tangga.

    Usai menunjukkan SMS itu, ia langsung mereply “Oalah, lha wong sek mlarat ae kok suamimu itu sudah mau kawin lagi to?!”, yang ternyata langsung mendapat balasan cepat.

“Nah, itu dia. Perempuan itu ndak ngeliat harta suamiku. Dia mengaku pengin jadi istri kedua karena mengharap ridhoku, duuuuh…..”

Woww!!, speechless. Terus terang, kali ini saya tak dapat berkomentar banyak atas peristiwa yang dialami sahabat temanku. Untuk menuliskannya di sinipun, saya harus berpikir berkali-kali. Tulis, enggak, tulis, enggak, dan….tulis. Baca lebih lanjut

Bahagia dengan Satu Istri


Terus terang, saya belum membaca buku yang berjudul ‘Bahagiakan Diri dengan Satu Istri’ karya Cahyadi Takariawan, anggota Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang membuat heboh kalangan akhwat atau kader wanita di parpol itu. Tapi membaca judulnya saja, mungkin isi buku ini memang akan membuat panas hati para kaum pria yang sudah berpoligami atau yang ingin berpoligami.

Poligami, sebuah hal yang tidak dilarang agama Islam, namun menjadi kontroversi di kalangan umat Islam sendiri. Ada yang pro, namun tak sedikit yang kontra, Terus terang, meskipun salut dengan para wanita yang mampu menjalani poligami, saya bukan termasuk golongan kaum hawa yang mampu menerima konsep ini. Pacaran diduain saja, sudah sakit hati setengah mati, apalagi harus berbagi suami. Ah, out of my mind dan tidak akan pernah mau membayangkannya. Memimpikannya pun saya, ndak mau loh…

Dalam berita infotainment beberapa hari terakhir, Maia Ahmad mengungkapkan bahwa semua pria adalah ‘lelaki buaya darat’, tak ada pengecualian sedikitpun. Hanya kadarnya saja yang berbeda, ada yang kecil, ada yang besar. Jadi, kalo memang ada cowok yang sering ngelirik cewek lain padahal dia sedang berjalan dengan sang kekasih, bukan sesuatu yang luar biasa. Amat sangat wajar terjadi.

Nah, dari berita di Jawa Pos, alasan Cahyadi menulis buku yang kontroversial di internal PKS ini berawal dari banyaknya curahan hati kaum istri yang suaminya menikah lagi, atau berniat untuk berpoligami. Bahkan, ada pria yang berpoligami hanya karena panas telinga dikomporin oleh rekan di lingkungannya yang sudah berpoligami semua.

Akibatnya, dia berpoligami bukan didasari oleh kesiapan mental dan kesiapan diri untuk berbuat adil, tapi hanya karena ikut-ikutan lingkungan. (mungkin, dalam pikiran para pria yang ‘terjebak’ poligami, mereka sudah berbuat sesuatu yang mendatangkan pahala). Padahal, jika poligami terjadi karena keterpaksaan, maka bisa ditebak, keluarganya lah yang kemudian menjadi korban. Terbengkalai dan tak terurus. Anak-anak yang harusnya mendapat perhatian lebih, harus rela ‘dicueki’ dan hidup dalam kondisi merana. Tentu juga diiringi rasa sakit hati karena orang tua -khususnya ayah- menduakan cintanya dengan wanita lain