Pemimpin (Jangan) Narsis


Sebuah  judul berita langsung menarik perhatian saya ketika membaca koran akhir Februari lalu, “Ketua MK Minta Menteri Tidak Genit” (Jawa Pos, 24/2/10). Wah, genit seperti apa?, tanya saya dalam hati sembari langsung membaca isi berita. Ternyata Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud M.D menilai salah satu penyebab buruknya perundangan Indonesia, yang saling tumpang tindih karena banyak menteri yang terlalu ‘genit’, sehingga ingin membuat UU sebagai kenang-kenangan dan tanda bahwa mereka pernah menjabat.

Memang, akan menjadi sebuah kebanggaan, jika di kemudian hari ada seorang mantan menteri yang bisa berkata “Anda tahu? UU tentang bla, bla, bla, itu dibuat ketika saya menjabat menteri”. Yach, selain menjadi kenang-kenangan, UU tersebut, paling tidak bisa menjadi sebuah tema yang dibahas terus menerus dalam setiap obrolan saat mantan menteri bergulat dengan post power syndrome setelah tidak memiliki jabatan.

Jika Mahfud MD mengatakan menteri jangan terlalu genit, maka saya mengatakan jangan terlalu narsis. Sebab wilayah narsis menjadi hak eksklusif kami, masyarakat yang ingin ngeksis namun tak punya wadah eksklusif ala menteri yang bisa menghasilkan produk perundangan. Paling maksimal, narsis ala kami itu bisa diwujudkan dengan membuat tulisan untuk dikirimkan di media massa, syukur jika dimuat dan harus legowo saat tak lolos meja editing. Atau yang paling gampang adalah narsis di situs jejaring sosial, untuk itu terima kasih sebesar-besarnya pada anak muda kreatif Mark Elliot Zuckerberg yang sudah membuatnya. Baca lebih lanjut

Peluang Caleg Perempuan


Keputusan Mahkamah Konstitusi yang mengabulkan sebagian permohonan  uji materi UU no. 10 tahun 2008 tentang penetapan calon legislatif (caleg) terpilih berdasarkan suara terbanyak, ditanggapi beragam. Sebagian besar caleg setuju dengan keputusan tersebut (lha gimana enggak setuju, wong jumlah caleg selain nomor satu lebih banyak kan? 😀 ), meski ada juga yang menolak, atau bahkan abstain karena nggak ngeh dengan sistem yang dijalankan 😆 (lah klo githu kok nyaleg yo? sungguh mengherankan! ).

Baca lebih lanjut

Hanya Mendengar Atau Mendengarkan?


Mendengar dan mendengarkan. Berasal dari satu kata yang sama, namun memiliki arti berbeda. Mendengar menjadi kata kerja yang mewakili fungsi dan tugas salah satu panca indera karunia Allah SWT, telinga. Tanpa harus menjadi ilmuwan dan profesor, saya dapat memastikan semua makhluk Tuhan yang mempunyai dua telinga normal (termasuk saya dan Anda) dapat mendengar. Baca lebih lanjut