Cita-citaku Ingin Jadi Pegawai Negeri


Episode Ujian Lisan

Hari ini aku bangun pagi, 04.15 WIB, antre wudhu di kamar mandi dan berangkat untuk salat Subuh berjamaah di Gedung Kuwait. Masjid Pondok masih dalam tahap pembangunan, sehingga kami para calon santri dan santriwati harus rela salat di salah satu ruangan gedung dan menyebar ke emperan. Rutinitas bangun pagi yang harus aku jalani di pondok sebenarnya bukan sesuatu yang aneh. Maklum saja, saat di rumah, aku sudah dibiasakan bangun sesaat setelah azan subuh dikumandangkan. Meski itupun hasil dari cubitan ‘manis’ Ibu, atau goyangan lembut dari tangannya yang membangunkanku.

“Ayo, cepat bangun. Bapak sudah azan, orang lain yang rumahnya jauh saja sudah ke musala, masak kamu yang di sini, tidur di rumah yang berdempetan dengan musala masih tidur, malu!,” katanya. Seingatku kalimat itulah yang selalu diucapkan Ibu saat membangunkan aku, yang seringkali memang ogah-ogahan untuk membuka mata.

Meski bukan beban yang berat, tetap saja rasa malas sering menghampiri dan mencoba merayuku untuk tetap bersembunyi di balik selimut, mencoba berpura-pura tak mendengar bel yang dipukul keras untuk membangunkan santriwati. Tapi pikiran rasionalku bekerja seimbang dengan rasa malas yang datang. Di tengah keinginan untuk meneruskan tidur di kamar, aku masih sempat berpikir jika aku tidak salat berjamaah pasti akan mendapat hukuman dari kakak kelas, meski statusku masih calon santriwati. Kalo dihukum, aku pasti malu sekali. Dan aku nggak mau mendapat malu. Jadi, dengan lemah aku berusaha memaksa untuk membuka mata, bangun, dan berjalan gontai ke kamar mandi.

Usai salat subuh di shaf paling akhir, aku kembali pulang ke kamar dan langsung pergi lagi ke kamar mandi. Aku ingin mandi pagi karena hari ini adalah hari spesial. Dari obrolan temen-temen calon santriwati, aku baru tahu kalau hari ini ada jadwal ujian lisan. Karena itu, usai mandi aku langsung mengenakan baju terbaikku, jubah hitam dengan jilbab hitam (gila aja!!, kayak orang berkabung). But, I like black. Dan untuk acara sepenting itu, warna hitam pasti akan membantu menumbuhkan rasa percaya diriku.

****

Pukul 08.00 WIB. “Dewi Yuhana, masuk!,” teriak salah satu perempuan di ruangan 101 Kuwait. Dengan sedikit berdebar aku masuk ke dalam ruangan yang aslinya sebuah kelas itu. Di sana, ada satu kursi kosong yang sengaja diletakkan di tengah-tengah, sementara di depannya ada tiga orang perempuan berwajah serius yang selanjutnya aku panggil ustadzah. Harus kuakui, awalnya aneh juga memanggil mereka dengan kata ustadzah. Tapi mau bagaimana lagi, semua teman-temanku dan kakak-kakak menyebut mereka ustadzah. Oia, Ustadzah adalah kata bahasa Arab, yang artinya bu guru. Walau awalnya terasa janggal, lama kelamaan aku terbiasa kok mengucapkan kata ustadzah, malah rasanya jadi keren banget, aku bisa ngomong bahasa Arab!!, meski masih satu kata, huehehehe.

Kembali ke ruangan dimana aku dipanggil, secara otomatis aku langsung duduk di kursi kosong, memandang ketiga ustadzah yang ada di depanku, menunggu intruksi dan pertanyaan dari mereka.

“Masmuki?,” kata ustadzah yang ada di tengah.

Tergagap aku mendengar pertanyaan singkatnya. Tapi dengan sangat pe-de dan keras, aku langsung menjawab. “Ismi Dewi Yuhana”, yang disambut senyuman mereka bertiga.

Horeee, aku bisa ngomong pake bahasa Arab lagi. Ah, untung tadi sempat diajari salah satu teman di kamar. Katanya, saat ujian lisan ustadzah akan menguji kemampuan bahasa Arab calon santriwati. Dan salah satu pertanyaannya adalah Masmuki atau man ismuki. “Artinya siapa nama kamu. Aku kemarin juga ditanya seperti itu. Kalo kamu ditanya, jawab aja dengan menyebutkan ismi Halimah,” jelas temenku yang bernama Halimah dengan bangga. Sepertinya, dia sudah merasa bagaikan suhu bahasa Arab hanya karena mengetahui arti masmuki, man ismuki, dan ismi. Tapi bagaimanapun aku harus berterima kasih kepadanya, hingga aku bisa menjawab pertanyaan ustadzah itu dengan tenang, cepat, dan benar!.

“Kamu kembar dengan Lutfiah,” tanya ustadzah yang ada di sebelah kiri.
“Enggak,” jawabku.

“Kok pakaiannya sama”.

“Memangnya, kalo bajunya sama harus kembar?,” tanyaku balik yang lagi-lagi dijawab dengan senyuman mereka. Sebelum giliranku untuk diinterogasi, Lutfiah, sepupuku memang masuk terlebih dahulu. Dan pagi itu, Lutfi juga mengenakan baju yang sama denganku, jubah hitam plus jilbab hitam.

“Dewi, kenapa kamu ingin masuk Gontor Putri?,” tanya ustadzah yang duduk di sebelah kanan.

Oalah, pertanyaan opo to iku. Aku mau masuk pondok yang pengin belajar, githu aja kok ditanyain, kataku dalam hati. “Ya pengin belajar ustadzah, khususnya ilmu agama”.

“Kalau boleh tahu, cita-cita Dewi ingin menjadi apa?”.

“Mau jadi Pegawai Negeri!”. Jawaban spontan itu tak lagi membuat ketiga ustadzah di depanku tersenyum seperti sebelumnya, mereka langsung tertawa!. Loh, loh, memangnya ada yang salah dengan jawabanku? rasanya kok ndak ada. Lalu kenapa mereka tertawa?. Sebenarnya, bukan tanpa alasan jika aku menjawab ingin jadi pegawai negeri. Bapakku seorang guru, dan pegawai negeri. Pakdeku dari Ibu, Pakdeku dari Bapak, sebagian besar adalah pegawai negeri. Jadi aku hidup di sekeliling para pegawai negeri, sehingga wajar dong kalau aku juga ingin menjadi seperti mereka.

“Kalau ingin jadi pegawai negeri, kenapa masuk pondok?,” tanya ustadzah di tengah dengan serius.

“Kenapa? memangnya kalau saya pengin jadi pegawai negeri nggak boleh masuk pondok,” jawab saya sekaligus bertanya.

“Bukan begitu, pondok ini nantinya mencetak alumnus yang akan menjadi guru. Makanya namanya Kulliyatul Mu’allimat Al-Islamiyah (KMI), kalau Dewi ingin jadi pegawai negeri, ya sekolah saja di luar pondok”.

Aih, aih, kok malah ustadzahnya ngomong begitu ya?!. “Ustadzah, pegawai negeri kan ada yang guru. Bapak saya guru”.

“Iya, tapi pondok ini tidak akan mencetak pegawai negeri”.

“Ya nggak apa-apa, saya tetap mondok di sini, tapi saya juga ingin jadi pegawai negeri!,” kataku ngotot. Lagi-lagi, ketiganya tertawa.

****

CAT: Semua cerita tentang ujian masuk ke Gontor Putri terjadi di tahun 1992. Saat mengikuti ujian lisan, Lutfi belum bercerita tentang menu-menu enak di salah satu pondok di PO, jadi lah kami berdua mengikuti semua ujian dengan bersemangat. 🙂

 

Tuhan, jangan Luluskan Kami…


Episode Ujian Masuk

“Ya Allah, Engkau Maha Pengasih dan Penyayang. Jika Engkau menyayangi kami, tolong jangan luluskan kami. Izinkan kami memilih pondok yang lebih baik dari ini”.

Aku dan Lutfiah, saudara sepupuku menunduk dengan khidmat di bangku kayu di depan gedung Kuwait. Kami berpegangan tangan, berdoa, berdizikir dan terus menyebut asma Allah. Memohon kepada-Nya agar kami tidak lulus dalam ujian masuk ke Gontor Putri. Doa yang tentu sangat aneh, karena ratusan calon murid lain berharap-harap cemas mendamba nama mereka masuk dalam santriwati terpilih. Tak hanya calon murid, orang tua  tak kalah khusyuknya berdoa, bermunajat kepada Allah SWT agar buah hati tercinta bisa mengeyam pendidikan di pondok yang terletak di daerah Ngawi Jawa Timur itu.

Pagi itu, kami semua, calon santriwati Gontor Putri memang dikumpulkan di jalan depan Gedung Kuwait. Kami duduk di bangku-bangku kayu panjang di bawah sinar matahari pagi yang hangat,  menunggu nama kami beserta nomor ujian dipanggil oleh panitia melalui pengeras suara. Mereka yang namanya terpanggil, secara otomatis termasuk peserta yang lulus dan berhak menjadi santriwati. Nomor ujian yang terlewati, harus rela dan tabah dengan kenyataan bahwa dirinya gagal masuk Gontor Putri dan jika mau, bisa mencoba peruntungan tahun depan, atau mendaftar  ke pondok cabang.

Satu per satu nomor dan nama peserta dipanggil, nomor 2010, 2050, 3140, 3154, lalu 3162 dan seterusnya. Peserta  yang nama dan nomornya disebut spontan berteriak senang sembari berucap Alhamdulillah.  Mereka duduk tegak dengan wajah bahagia dan berseri-seri. Sinar matahari pagi pun kalah dengan kilauan cahaya di wajah sumringah para santriwati baru ini.  Bak calon pahlawan, mereka langsung tegap berdiri dan berjalan ‘gagah’ menaiki tangga Gedung Kuwait menuju hall tempat para santriwati yang lulus dikumpulkan.

Suasana ini tentu berbeda dengan peserta yang namanya tak disebut. Wajah tegang mereka langsung lesu, layu, bak tanaman tak pernah disiram seribu hari. Isakan tangis tak terbendung. Air mata meleleh bercucuran. Para orang tua langsung mempererat pelukan kepada buah hatinya yang sedang sedih. Mencoba menenangkan dan menghibur, mengucapkan kata dan kalimat penyemangat yang sebenarnya juga ditujukan kepada diri mereka sendiri, sebab hati  orang tua ini pun tak kalah pedihnya. Harapan melihat anak mereka menjadi santriwati harus kandas. Sungguh pemandangan yang mengharu biru bagi yang melihatnya.

Karena itulah, jika mereka mendengar doa kami *aku dan Lutfi* tentu akan murka dan memaki kami. Mengatai kami sebagai anak yang tak tahu rasa bersyukur. Melihat kami sebagai dua orang saudara sinting karena melawan arus. Ah, tapi kami kan memang belum tentu diterima karena nama dan nomor kami belum terdengar dipanggil dari pengeras suara.

Meski demikian, semakin mendekati nomor ujian kami, jantungku berdetak kian kencang, dug, dug, dug, laksana genderang yang ditabuh berkali-kali, seperti bedug yang dipukul dengan semangat sebelum azan dikumandangkan. Lalu, bagaikan suara bom, nomor itupun terdengar memekakkan telinga. Nomor 3172 atas nama Lutifah dan 3173 atas nama Dewi Yuhana.

“Ya Allah, kenapa Engkau luluskan aku?. Kenapa ya Allah?” teriakku dalam hati.

Melihat wajahku yang sedih, Lutfi menenangkan. Dia menggenggam tanganku dan memelukku. Tak seperti santriwati lain yang bergegas naik ke hall, kami masih duduk beberapa lama di bangku yang semakin terasa keras itu. Kaget dengan kenyataan  kami lulus dalam ujian masuk Gontor Putri. Kecewa karena Tuhan ternyata tak mengabulkan doa yang berpuluh dan beratus kali terucap dari mulut dan hati kami.

Orang tua murid dan peserta lain memandang kami yang tetap duduk dengan heran. Mungkin mereka mengira kami sebegitu senangnya sampai terkaget-kaget dengan kenyataan kelulusan itu. Dari pancaran mata mereka tersirat ucapan selamat, bahkan tak sedikit yang kemudian mendekat, menyalami dan memberikan ucapan secara langsung.

“Selamat ya, sudah lulus dan diterima jadi santriwati.”

“Terima kasih,” jawab kami lemah.

Ah, mereka kan tak tau yang sebenarnya. Mereka tak bisa membaca kepedihan di hatiku dan kesedihan yang dirasakan Lutfi. Kami duduk kaget bukan karena gembira telah lulus. Sebaliknya, kami duduk lesu karena menyesali kelulusan itu dan menyalahkan Tuhan  yang telah memberi jalan kelulusan. Ah, Ya Robb, maafkan hamba yang kurang bersyukur ini.

Setelah beberapa menit duduk, akhirnya Lutfi dan aku pun beranjak menaiki tangga dan ikut berkumpul dengan santriwati lain yang sudah dipanggil sebelumnya. Di sana, wajah kami masih saja berbalut kesedihan dan rasa tidak percaya bahwa sebentar lagi kami harus terikat dengan pondok itu. Harus mengikuti semua peraturannya yang ketat, tidur beralas kasur tanpa dipan, antre dengan puluhan santriwati lain saat makan dan mandi. Dan tentu saja, tak bisa berlama-lama memanjakan diri di dalam kamar mandi seperti kebiasaan saat di rumah dulu.

****

Sehari sebelum pengumuman kelulusan, Lutfi menceritakan hal yang membuatku kaget. “Dewi, di Pondok X di Ponorogo, suasana di sana lebih enak dari di sini. Makanannya juga lezat-lezat, lauknya seringkali daging, ikan, dan ayam. Nggak kayak di sini, tempe, tahu, kerupuk, dan cuma sekali atau dua kali kita makan lauk ayam,” katanya.

Glekk!!!. “Waduh, kalo githu, kita salah mendaftar donk. Kita salah pilih pondok!!, kenapa kita dulu ndak milih masuk ke sana saja. Eh, tapi kamu tau dari mana kalo suasana di sana lebih enak?,” tanyaku.

“Dari temen MTsku, dia sekarang kan mondok di sana. Aku lupa, sebelum kita berangkat ke sini, dia cerita tentang pondoknya. Wis, poko’e enaaak tenan! beda banget sama di sini”

“Ya udah, kalo githu, kita doa aja. Semoga besok kita ndak lulus, trus habis itu kita langsung pergi ke Ponorogo untuk mendaftar di sana.”

Keinginan kami untuk tidak lulus memang disebabkan oleh hal sepele, namun penting bagi calon santriwati baru. Sejak datang dan menginap di Gontor Putri menjelang ujian masuk, kami memang disuguhi dengan menu masakan yang hambar. Sayuran yang dimasak terasa kurang sedap karena diperuntukkan bagi ribuan santriwati. Jenis lauknya juga bisa dihitung dengan lima jari. Tempe, tahu, kerupuk, sesekali ikan, sesekali daging yang diiris tipis, dan tentu saja sambal.

Kami memang tak berasal dari keluarga berada. Kami juga tak selalu makan dengan menu lezat setiap saat. Tapi paling tidak, masakan ibu-ibu kami masih bisa dirasakan dengan nikmat, lezat.  Karena itulah, informasi dari teman Lutfi benar-benar membuat rencana kami untuk masuk ke Gontor Putri berubah.

****

Kenyataannya, kami berdua lulus dan terdaftar sebagai santriwati baru. Kenyataannya, kami tak bisa melaksanakan plan B, pergi ke Ponorogo dan mendaftar ke pondok yang disebut teman sepupuku itu. Alasan itulah yang membuat kami lunglai dan lemas. Kami tak bisa membayangkan akan terus makan dengan lauk seadanya dan cita rasa hambar  selama enam tahun (untukku) dan empat tahun untuk saudaraku.

Saat itu, aku benar-benar kembali bertanya kepada sang pemberi nyawa, kenapa Dia tetap meluluskanku dan Lutfi, padahal kami sudah memohon dan berdoa dengan sepenuh hati. Aku bahkan bertanya “Ya Allah, tak sayang kah Engkau kepada hamba-Mu ini?”, berkali-kali, berhari-hari, berbulan-bulan.

***

Allah memang paling tahu apapun yang terbaik untuk hambaNya. Saat aku dan Lutfi kecewa dengan kelulusan di Gontor Putri, Dia sebenarnya sedang membuat skenario terbaik untuk perjalanan hidup kami ke depan. Dan kenyataannya, aku bisa menjalani enam tahun kehidupan di dalam pondok. Ternyata, aku juga cukup bisa beradaptasi dengan segala peraturan ketat dan ritme aktivitas yang tiada henti itu. Dan ya, ternyata aku sangat menikmatinya.

Bahkan enam tahun sejak kelulusan itu diumumkan, akhirnya aku mengetahui jawaban dari rencana Allah yang kala itu memutuskan untuk meluluskan kami berdua. Kenapa Dia menempatkan kami di Gontor Putri dan bukan di pondok X. Dalam sebuah kunjungan studi, yang salah satunya ke pondok X, aku melalui pandangan mataku sendiri, melihat kondisi nyata dari pondok yang dulu diagung-agungkan oleh teman sepupuku.

Seandainya kami tidak lulus dan melaksanakan Plan B, maka bisa dipastikan, kami akan langsung menyesal karena mendapati kenyataan yang berbeda dari cerita teman Lutfi.  Pondok yang dibanggakan itu ternyata sangat kotor, jorok, dengan kondisi jauh berbeda dari gedung-gedung yang ada di Gontor Putri. Ya, gedung di Gontor Putri memang bukan gedung megah, tapi bersih dan terawat. Kami diwajibkan untuk selalu membersihkan kamar setiap hari, menyapu halaman setiap pagi, mengepel dan menguras kamar mandi setiap minggu.

Ah, manusia memang terkadang kurang bersyukur dengan apa yang sudah diperolehnya. Terlalu berburuk sangka atas rencana-rencana Allah, padahal pasti ada hikmah yang indah di setiap peristiwa yang sudah digariskan-Nya.
Sampai hari ini, saat menulis di sini dan sampai nanti, aku tak akan pernah berhenti mensyukuri nikmat kelulusan yang dianugerahkan Dia Yang Esa, saat itu. Alhamdulillah.