Berkawan dengan Emosi


Ok, saya minta maaf. Maaf beribu maaf karena tidak bisa menepati janji untuk menulis aktif di blog ini dalam setahun kemarin. Oh, Anda merasa tidak pernah mendengar janji saya tersebut? Ya iyalah! karena saya memang tidak pernah berjanji kepada Anda atau siapapun di luar sana kecuali kepada saya sendiri.

Tidak perlu mengurai alasan #panjang kali lebar sama dengan luas# karena akan selalu saja ada yang bisa dijadikan kambing hitam, kenapa saya enggan menulis di rumah kecil ini, kemarin. Padahal nich, ada banyak cerita, kisah atau apapun namanya yang bisa ditulis loh. Ah sudahlah, 2011 sudah berlalu.

Berkawan dengan Emosi

Ada apa dengan emosi? kenapa harus berkawan dengan emosi? apa saya sedang emosi? yes, Iam!.

Baca lebih lanjut

Oh, Ada Murid Kentut!


Jika Anda seorang guru, apa yang akan Anda lakukan saat ada seorang murid kentut di kelas, dengan suara super duper keras pula?. Duuud brooottt… 😀

Muka memerah, mengamuk marah, lalu berceramah mengenai etika dan lain sebagainya. Berkhutbah bagaimana seharusnya sikap seorang murid di dalam kelas,  hingga tentang adab dan sopan santun ketimuran yang harus dijunjung tinggi, atau menyuruh murid tersebut keluar kelas dan memberinya hukuman?. Mungkin ya (melakukan semua yang saya sebutkan tadi), mungkin juga tidak.

Creative. Ahmad Dahlan adalah contoh  pendidik yang kreatif. Saat dia mengajar dan ada murid  kentut di dalam kelas, ia tidak serta merta marah atau meminta murid bersangkutan meminta maaf. Ia malah bercerita tentang betapa nikmatnya seseorang bisa kentut. Karena kentut adalah anugerah Tuhan yang sungguh luar biasa, bukti kecintaanNya kepada manusia dan salah satu wujud karunia yang harus disyukuri.

“Kita harus bersyukur bisa kentut. Coba bayangkan tubuh manusia seperti balon tanpa lubang untuk mengeluarkan gas. Balon tersebut terus diisi dengan udara, dipompa terus, lagi dan lagi hingga menggelembung dan akhirnya duarrrr, pecah!. Tapi Tuhan sayang dengan manusia hingga memberinya lubang untuk kentut, makanya, sebagai rasa syukur kita harus berucap. . .”

“Alhamdulillah”, jawab seluruh murid.

Think Fast. Untuk menjadi kreatif, seorang pendidik harus bisa berpikir cepat, mencari ide pengembangan (pembelajaran) dari stimulan yang muncul di dalam kelas. Jika contoh (stimulan) dalam film Sang Pencerah besutan Hanung Bramantyo tersebut tentang murid yang kentut, maka ada bermacam peristiwa yang bisa kita temui dalam kelas sehari-hari.  Anda, para pendidik, harus bisa menyikapinya dengan dewasa (dan tentu saja kreatif).^^


Pemimpin (Jangan) Narsis


Sebuah  judul berita langsung menarik perhatian saya ketika membaca koran akhir Februari lalu, “Ketua MK Minta Menteri Tidak Genit” (Jawa Pos, 24/2/10). Wah, genit seperti apa?, tanya saya dalam hati sembari langsung membaca isi berita. Ternyata Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud M.D menilai salah satu penyebab buruknya perundangan Indonesia, yang saling tumpang tindih karena banyak menteri yang terlalu ‘genit’, sehingga ingin membuat UU sebagai kenang-kenangan dan tanda bahwa mereka pernah menjabat.

Memang, akan menjadi sebuah kebanggaan, jika di kemudian hari ada seorang mantan menteri yang bisa berkata “Anda tahu? UU tentang bla, bla, bla, itu dibuat ketika saya menjabat menteri”. Yach, selain menjadi kenang-kenangan, UU tersebut, paling tidak bisa menjadi sebuah tema yang dibahas terus menerus dalam setiap obrolan saat mantan menteri bergulat dengan post power syndrome setelah tidak memiliki jabatan.

Jika Mahfud MD mengatakan menteri jangan terlalu genit, maka saya mengatakan jangan terlalu narsis. Sebab wilayah narsis menjadi hak eksklusif kami, masyarakat yang ingin ngeksis namun tak punya wadah eksklusif ala menteri yang bisa menghasilkan produk perundangan. Paling maksimal, narsis ala kami itu bisa diwujudkan dengan membuat tulisan untuk dikirimkan di media massa, syukur jika dimuat dan harus legowo saat tak lolos meja editing. Atau yang paling gampang adalah narsis di situs jejaring sosial, untuk itu terima kasih sebesar-besarnya pada anak muda kreatif Mark Elliot Zuckerberg yang sudah membuatnya. Baca lebih lanjut

Anarkis, Kekerasan, dan Anak Perempuan


Tiga kelas porak poranda. Kursi terbalik, rusak. Buku-buku hancur lebur dengan lembaran yang sobek, terkoyak. Piala-piala yang sebelumnya tampak gagah berdiri di lemari pajang, bergeletakan di lantai dengan kondisi tak kalah mengenaskan, patah menjadi dua, tiga, tak mampu menampakkan kecantikan dan prestasi membanggakan di balik perolehannya.

Visual dari kelas hancur itu sebenarnya tak langsung menarik perhatian saya. Maklum, sudah terbiasa melihat perusakan aset, ruangan, gedung, atau apapun sejenisnya yang dilakukan orang-orang tak bertanggung jawab di tanah air yang lebih parah dari itu. Narasi selanjutnya lah yang kemudian membuat saya kaget. Suara narator perempuan yang terdengar telinga itu langsung diolah otak dalam sepersekian detik kecepatan, yang kemudian mengintruksikan mata untuk langsung melihat layar TV, mengalihkan dari keasikan saya sebelumnya, membaca.

Jika bisa berbicara dan mengungkapkan perasaan, TV yang sebelumnya saya cueki dan hanya menjadi background suara itu mungkin akan berteriak girang. “Horrrrrreeeeeeee, I finally get ur attention!”.

Kalimat narator inilah yang membuat saya terbengong-bengong:  “Perusakan kelas di MI Raudhatul Hikmah Mojokerto itu dilakukan oleh BL dan S, siswi kelas 3 SDN II Desa Wotanmas Jedong Mojokerto. Dua anak perempuan yang masih berusia 9 tahun itu mengaku cemburu karena gedung MI tersebut lebih bagus dari sekolah mereka yang jelek”. Hallah dalah!! oalah nduk, nduk. . . kasian bener kalian, menjadi korban pelaku anarkis yang jumlahnya tak jua berkurang.

Baca lebih lanjut

Ikhlas Memberi Ikhlas Menerima


Ikhlas memberi, ikhlas menerima…
Ikhlas berbagi, ikhlas mendapatkan anugerah apapun dariNya…

itu kalimat yang saya tulis dalam status di fesbuk hari ini (6/7/9). saya tulis langsung sesaat sesudah bangun tidur, agar tidak lupa dan hilang begitu saja. ini karena, kalimat tersebut muncul begitu saja dalam pikiran, menyela mimpi dan nyenyaknya tidur.

ah, muncul begitu saja?
I dont think so.
Baca lebih lanjut

Rapuh, Belajar untuk Kuat


terkadang kita memang harus menjadi lidi,
untuk menyadari bahwa kita tak bisa [selalu] sendiri
membutuhkan orang lain,
untuk saling menguatkan, menyempurnakan…

itu komen saya untuk note seorang teman di fesbuk yang menulis  “jangan menjadi lidi, yang hanya kuat saat bersatu dan rapuh kala sendiri”. hai teman -to not write ur complete name here-, menjadi rapuh bukan sebuah kesalahan, kelemahan, apalagi dosa. menjadi rapuh menunjukkan bahwa kita benar-benar manusia, makhluk sosial yang diciptakan untuk hidup bermasyarakat, saling membantu, membutuhkan, wujud dari hablun min annaas, ukhuwah dan apapun istilah lainnya.

menjadi rapuh merupakan kesempatan belajar untuk lebih kuat, tegar.
manusia tak akan menikmati saat kuat sebelum merasakan dan melewati fase rapuh. tak akan mensyukuri dan memahami kesenangan dan kebahagiaan sebelum merasakan kesedihan. selalu [harus] ada keseimbangan dalam hidup, ada hitam dan putih, ada yin-yang, malam-siang, matahari dan bulan.

rasakan kerapuhanmu, kelemahanmu, kesedihanmu…
sebagai anugerah nikmat dariNya

Dimana? Ngapain? Sama Siapa? (Selesai)


Dimana? Ngapain? Sama siapa?

Uh, itu bukan kalimat yang sering kamu dengar dalam sebuah iklan rokok di televisi, tapi perhatian yang selalu diucapkan oleh pacarku, kekasihku, hampir lima hingga 10 kali sehari. Aku sangat senang mendapati ia, yang terkasih, memberikan perhatian sebegitu dalamnya kepadaku. Ah, berarti dia memang benar-benar mencintaiku, menyayangiku. Hingga  selalu ingin tahu kegiatanku, detik demi detik. Mengkhawatirkan keamananku, sampai selalu menanyakan dengan siapa aku berkawan.

Dimana? Ngapain? Sama siapa?

Dua bulan sudah kami menjalin kasih, merajut cinta, untuk menggapai asa bersama. Ia, masih sosok penuh perhatian yang selalu melimpahiku dengan kasih sayang. Jika dulu ia hanya menanyakan semua aktivitasku via telpon dan SMS, dia sekarang selalu siap sedia menemaniku, kemanapun aku ingin pergi. Sejak pagi buta, saat sinar mentari masih hangat, siang, sore, hingga ketika bulan menyembul indah di hitamnya langit, ia selalu ada, di sisiku, hanya untukku. Ah, begitu indahnya dunia.

Dimana? Ngapain? Sama siapa?

Teman-temanku protes!!. “Kamu sekarang berbeda. Nggak pernah mau jalan bareng kita lagi, ke mal, nonton, bahkan mengerjakan tugas kuliah! Masak setiap hari selalu sama pacar, apa nggak bosan?!”
Ah, dasar mereka yang sirik. Mereka kesal melihat kemesraanku dengan kekasih tercinta. Uh! SEBEL!!!.
Nonton bareng temen-temen?, nggak perlu. Pacarku siap sedia menemaniku nonton. Ke mal? ah, dia tipe cowok yang sabar menantiku memilah dan memilih baju. Bahkan, dia selalu memberikan masukan tentang baju apa yang cocok untuk aku kenakan. Ya, sebulan terakhir aku memutuskan untuk memperbanyak koleksi rok, karena ia lebih senang melihatku dengan rok yang menurutnya lebih  feminin, cantik dan manis 🙂 .
Soal tugas kuliah? ah, dia kakak kelasku dan  salah satu penerima beasiswa yang berarti otaknya encer (bukan cair loh 😀 ). Dia bisa menjadi konsultan untuk semua tugas kuliah. Jadi yaa ndak perlu aku bertanya ke teman-temanku, yang belum tentu mereka sendiri tahu jawabannya.

Dimana? Ngapain? Sama siapa?

Hari ini, tepat empat bulan kami mengikrarkan diri menjadi kekasih. Kasian pacarku, dia dalam kesulitan!. Dana beasiswanya tak cair,  kiriman dari keluarganya belum datang. Sebagai kekasih yang baik aku putuskan untuk meminjamkan uang kepadanya. Uang di ATMku sebenarnya untuk semua kebutuhanku hingga akhir bulan ini, tapi dia lebih membutuhkannya dari pada aku. Ya udah, tadi sebelum masuk kelas, aku berikan ATM dan PIN kepadanya, agar ia dapat mengambil uang secukupnya.
Saat menjalin kasih, kita memang harus bisa berbagi, apapun.

Dimana? Ngapain? Sama siapa?

Masih tengah bulan, aku sudah tak memegang uang sepeserpun. Mau meminjam ke teman, sungkan. Mereka memandang sinis kepadaku, sejak aku membantah keras teguran dan protes mereka tentang gaya pacaranku beberapa waktu lalu.  Mau meminjam ke pacar, lha wong untuk hidupnya aja dia sudah pas-pasan. Hiks, Im all alone…
Orang terakhir yang bisa aku hubungi adalah Bunda, keluarga. Ya, kepada siapa lagi kita berkeluh kesah jika bukan kepada mereka?.
“Bunda, bisa dikirim uang lagi. Duit dedek sudah habis, padahal masih banyak tugas kuliah yang belum dikerjain. Bisa ya Bun?”
“Loh?! belum akhir bulan cah ayu?!. Bahkan ini masih tanggal 14, kok sudah habis duitnya. Dipakai buat apa?”
“Ehmmm… iya, soalnya banyak tugas”.
“Ya sudah, dikirim besok pagi saja!”
“Makasih…”

Dimana? Ngapain? Sama siapa?

Saat liburan semester, aku menjad bulan-bulanan di keluarga. Saudara dan orang tuaku memarahiku. Mereka selalu kesulitan saat menghubungiku. HP tidak aktif, ditelpon ke kos, aku tak ada. Aku hanya bisa diam, tak berani membantah meski sebenarnya ada jutaan kata yang ingin aku ceritakan. Ah, tidak perlu….Untuk apa?
Apa aku harus bercerita, selama ini HPku lebih sering dibawa oleh pacarku?
Apa aku harus mengatakan jika setiap telpon yang masuk selalu diseleksi dulu?
Apa aku harus mengungkapkan, bila sebenarnya aku sangat tersiksa dan ingin mencurahkan semua isi hatiku kepada mereka?
Ah, tidak!. Aku tak ingin bunda menangis karena sedih. Aku bisa menghadapi semua. Aku pasti bisa menyelesaikan semua.

Dimana? Ngapain? Sama siapa?

Ada satu niat besar yang aku pupuk selama liburan semester kemarin. Aku akan memutuskan hubungan dengan kekasih tercintaku.
Dia memang mencintaiku, aku tahu. Dia menyayangiku, sebesar sayangku kepadanya. Dia menginginkan yang terbaik, begitu juga aku. Tapi aku tak kuat menanggung kuatnya cinta yang ia berikan. Besarnya sayang yang ia limpahkan. Aku, aku yang bukan siapa-siapa tak pantas untuk terus bersanding dengannya.
“PUTUS?! tidak akan pernah!! kalo kamu memutuskan hubungan, aku akan bunuh diri. Jika aku mati dan keluargaku bersedih, kamu yang patut disalahkan,” kata pacarku dengan muka merah meredam marah.
“Kamu nggak mungkin bunuh diri”
“Jangan mengancam!!”
“Aku tak mengancam, tapi tujuh bulan sudah cukup, terima kasih untuk semuanya,” kataku.

Uh!!, apa-apaan ini???. Aku tak bisa bernapas, dia mencekikku!!!!!!. “Lepaskan…..to…loo..ng….plisss…”
“Katakan kamu tak akan pernah memutuskanku?!”
“…tolong..lepaskan dulu…..”
“Janji tak akan ada kata putus!!”
“Ok….”
“Jangan pernah main-main lagi. Aku tak akan pernah mau putus denganmu,” katanya sembari memegang daguku dengan keras, sakit.

Dimana? Ngapain? Sama siapa?

Teman-teman di kos menanyakan biru lebam di leherku. Aku kaget dan spontan menjawab karena terbentur meja saat belajar dan mengantuk. Mendengar jawaban yang kurang meyakinkan, mereka hanya diam, mengerutkan kening, sambil memandangku sekali lagi, dari ujung rambut ke ujung kaki, aneh.
Novi, teman sebelah kamar yang selalu menjadi teman curhat, teman jalan, dan temen ngerumpi, menghampiriku. “Ada apa sih? cerita dunk? Pasti gara-gara cowokmu. Iya kan?. Sori, aku sempet liat waktu dia nampar dan nyeret kamu pas kos sepi. Kenapa masih jalan sih? Putus aja!”
“Sudah, tapi nggak bisa”
“NGgak bisa kenapa?”
“Dia bisa bunuh diri?”
“What? ngomong kayak githu?.  ah, biarin aja. Anak itu psiko tau nggak!”
Aku hanya tersenyum, masuk kamar, menutup pintu, berusaha untuk tidur, tapi tak bisa. Aku bingung, harus ngapain?

****

Saya menulis “Dimana? Ngapain? Sama Siapa?, Senin (19/01/09) setelah membaca berita tentang seorang siswa SMA yang membunuh pacarnya, di kamar mandi Masjid sekolah. Menurut pengakuannya, ia tidak ingin membunuh cewek yang sudah dipacari sejak enam bulan terakhir. Ia “hanya” mau memberi pelajaran karena kekasihnya itu masih sering jalan berdua dengan mantan pacarnya. Dia cemburu.

Tapi yang dimaksud dengan “memberi pelajaran” itu ternyata mencekik, membekap mulut, dan menggunakan jilbab si cewek untuk menjerat lehernya. Dia pergi begitu saja, tanpa tahu pacarnya sekarat, meregang nyawa di kamar mandi yang dingin, tersiksa, sendirian.

Usai membaca berita itu, saya teringat cerita seorang teman tentang saudaranya yang ‘terjerat’ dengan pesona pria psiko. Sedikit dari perlakukan si pacar saya tuliskan di atas (masih banyak perlakuan sadis, fisik dan psikis yang berpengaruh besar pada kondisi psikologis saudara teman saya itu). Ia, si pria psiko bukan cowok sembarang. Seorang yang cerdas dengan prestasi akademik membanggakan. But see?!….ada masalah berat dengan kejiwaannya. Di kasus ini, bukan hanya saudara teman saya yang membutuhkan terapi, tapi juga si pria. Saya kasian, pada keduanya.

Pria seperti ini biasanya sangat pandai memikat hati pasangan di awal hubungan. Ia berusaha keras menyembunyikan kebiasaan ringan tangan, kecenderungan parno (paranoid), dan sympton (gejala)  psikologis lainnya dengan sangat bagus. Mempengaruhi dan meracuni pikiran pasangan bahwa dialah the one and only yang akan menjadi soulmate hingga maut memisahkan. Menanamkan perasaan bersalah, memupuk ketergantungan, dan terus menebar jerat hingga si perempuan tak mampu melepaskan diri, meski ingin. Kalau sudah begini, benar adanya semua yang dipercaya Pilar, tokoh perempuan ciptaan Paulo Coelho, bahwa Cinta adalah perangkap. Ketika ia muncul, kita hanya melihat cahayanya, bukan sisi gelapnya. Meskipun perangkap yang ia maksud bukan pasangan psiko seperti yang dialami oleh beberapa rekan perempuan kita 🙂 .

Saya sebenarnya ingin langsung menyelesaikan tulisan ini senin lalu, tapi karena harus berangkat ke Jogja, maka saya tulis bersambung, dan membuat tamu-tamu di blog beranggapan kisah “Dimana? Ngapain? Sama Siapa?” adalah tentang saya. Whew!! enggak deh, dan jangan sampek kek githu.

Dari kedua kasus, saudara teman saya dan siswa SMA yang dibunuh pacarnya, mereka berdua tidak pernah menceritakan perlakuan dari sang pacar kepada keluarga dan teman. Mereka menjadi tertutup sejak menjalin kasih dengan pria jenis ini. Karena itu, jika kamu merasa memiliki pasangan seperti itu, lakukan tindakan cepat. Memutuskannya.
Jika tak mampu, meminta bantuan teman dan keluarga adalah tindakan kedua yang tepat. Mereka pasti akan mensupport yang terbaik untukmu. Jangan pernah menutup diri dari mereka yang menyayangimu sepenuh hati.

Atau bila kamu melihat temanmu mempunyai pasangan psiko, tolong mereka!. Ingatkan, tanpa terkesan terlalu ikut campur dan mendikte.