Rapuh, Belajar untuk Kuat


terkadang kita memang harus menjadi lidi,
untuk menyadari bahwa kita tak bisa [selalu] sendiri
membutuhkan orang lain,
untuk saling menguatkan, menyempurnakan…

itu komen saya untuk note seorang teman di fesbuk yang menulis  “jangan menjadi lidi, yang hanya kuat saat bersatu dan rapuh kala sendiri”. hai teman -to not write ur complete name here-, menjadi rapuh bukan sebuah kesalahan, kelemahan, apalagi dosa. menjadi rapuh menunjukkan bahwa kita benar-benar manusia, makhluk sosial yang diciptakan untuk hidup bermasyarakat, saling membantu, membutuhkan, wujud dari hablun min annaas, ukhuwah dan apapun istilah lainnya.

menjadi rapuh merupakan kesempatan belajar untuk lebih kuat, tegar.
manusia tak akan menikmati saat kuat sebelum merasakan dan melewati fase rapuh. tak akan mensyukuri dan memahami kesenangan dan kebahagiaan sebelum merasakan kesedihan. selalu [harus] ada keseimbangan dalam hidup, ada hitam dan putih, ada yin-yang, malam-siang, matahari dan bulan.

rasakan kerapuhanmu, kelemahanmu, kesedihanmu…
sebagai anugerah nikmat dariNya

Berdamai dengan Masa Lalu


“Jangan terlalu fokus dengan kesalahan masa lalu. Kalo kamu belum bisa menerima masa lalumu, bagaimana dengan orang lain?”

Itu adalah kalimat yang dilontarkan entah siapa namanya dalam film Caludia/Jasmine di tipi tadi malem (saia juga lupa tipi apa yach? klo ga salah seh RCTI. Lha wong emang gak ngikutin pilemnya dari awal). Ngomong-ngoming soal masa lalu, saia jadi inget shout out temen “sulitnya berdamai dengan masa lalu” (upz!, dont wori bi hepi, dirikyu tak akan menyebut namamu sobat tersayang….), yang ditulis di salah satu situs pertemanan.

gak usah diajak berdamai,
masa lalu tetap bagian dari perjalanan hidup…
mau ga mau, ia tetap ada, nyata…
senyata masa sekarang dan masa depan

Baca lebih lanjut

No Telp Rumahku Berapa ya?


Plasa Telkom, 24/12/08

Aku duduk bersama para pelanggan Telkom yang hendak bertatap muka dengan customer service yang cantik-cantik itu. Eitz, sebelum itu keknya harus telepon seseorang dulu deh.

“Halo Assalamualaikum…,” kata suara pria ramah di ujung telepon.

“Waalaikumsalam pak…,” jawabku.

“Eh Dewi, ada apa?,” lanjutnya.

“Nadia ada pak?”

“Ada,” katanya sembari memanggil putri ketiganya yang temanku di ma’had itu.

“Ya wik….,” kata Nadia.

“He3…..aku mo nanya, tau nomor telepon rumahku ga?” Baca lebih lanjut

(hanya) Untukmu


ada sedih ada bahagia.


tepat hari ini ada momen bahagia dan sedih, dalam waktu bersamaan
bukan tentang aku. dan tak ada kaitannya dengan diriku
tapi dirasakan ia yang berada nun jauh di sana, sahabatku…

saat mendengar ceritanya kemarin, aku tak dapat berkata apa-apa. tak jua berusaha menghiburnya dengan kata-kata indah, karena aku tau kata seindah apapun tak dapat menutupi kegalauan dan keresahan hatinya. aku juga tak berusaha untuk berucap ‘sabar’, sebuah kata basi yang seringkali diucapkan sebagai penghiburan basa-basi.
aku sedang tak mau berbasa-basi.
yang aku tau, sepahit dan segetir apapun masalah yang terjadi harus dihadapi.
bukan dihindari, apalagi dengan melarikan diri.

sobat, tunjukkan wajah tegarmu. berikan senyum termanismu. ucapkan doa tulusmu.
tanpa merasa malu untuk meneteskan air mata, menunjukkan rasa sedih, berbagi kisah dan luka.
tak perlu kau sembunyikan lara, karena ia memang ada
senyata doa yang aku panjatkan untukmu, hari ini, saat ini, detik ini.

*** Baca lebih lanjut

Untuk Sahabat


Kupersembahkan bunga ini, untuk kalian yang memiliki sahabat, menyayangi dan mengasihinya sepenuh hati...(semoga aku, salah satu diantaranya...*_*..he3..)

Habis salat subuh tadi ada SMS masuk. Ehmmm….jarang tuh terima SMS pagi hari, kecuali telpon dari bapakkyu ato bunda. Waaaah…..ternyata dari salah satu mitra bisnis. Isi SMSnya sih hampir sama dengan SMS yang pernah aku terima duluuuu sekali.
Bukan isinya yang kemudian membuat aku memutuskan untuk menuliskannya di sini, tapi makna di balik itu. Bahwa dia care, bahwa dia menganggapku sahabatnya 🙂
makasih……

Sahabat adalah dia yang menghampiri ketika seluruh dunia menjauh
Karena persahabatan seperti tangan dengan mata
Saat tangan luka, mata menangis
Saat mata menangis, tangan menghapusnya……


Cinta dan Air Mata


“Cinta tanpa air mata belum mencapai level tertinggi. Lagian kalo Aya nangis jadi keliatan seksi banget!,” kata Azam yang langsung disambut tawa tiga bersahabat itu

Masih inget sinetron Para Pencari Tuhan (PPT). Nah, jika Anda termasuk penggemar karya Deddy Mizwar ini, pasti Anda belum melupakan sosok Aya dan Azam, dua anak muda yang *sebenarnya* saling mencinta tapi selalu bertengkar dan berbeda pendapat. Mereka harus melewati berbagai rintangan emosi sebelum menjalin sebuah hubungan. Baca lebih lanjut