Lelaki, Perempuan, dan Naluri Mendua


Bos mau dicariin satu githu, tapi aku tak janji. Aku upayakan, nanti selera bos payah pula

Itu sepenggal kalimat Sekretaris Daerah Bintan Azirwan dalam percakapan telpon dengan anggota DPR Al Amin Nasution. Ya Tuhan, saya tidak bisa membayangkan perasaan Kristina saat mendengar percakapan yang diketahui jutaan masyarakat Indonesia. Lha wong saya yang bukan siapa-siapa Kristina dan tak memiliki hubungan kerabat dengan Al Amin saja kaget plus shock saat membaca judul berita “Amin Minta “Bonus” Perempuan” di Jawa Pos pagi ini.

“GiLA!! ndak malu sama namanya ya…….. AL AMIN!!, yang terpercaya. Ya Allah, gayanya alim kek gini, lha kok doyan juga. dasar laut, dasar sungai, dasar samudera! dasar lelaki kurang ajar!!….” ucapku spontan. Air mineral yang sudah di tangan pun urung aku minum.  

“Yah mbak, biasa deh kayak githuan,” kata Nita, mahasiswa UMM, yang membangunkanku pagi-pagi hanya untuk mengambilkan sertifikat workshop untuk temannya. Nita sebenarnya juga peserta workshop, dia ikut sejak acara pertamaku dulu, dan sekarang sudah menjadi dekat layaknya sodara aja.

 Jadi inget pernyataan spontan yang pernah dilontarkan seseorang “Mendua itu naluri lelaki. Aku mencintai yang satu, tapi nggak mau kehilangan yang lain”. Fiuh!!…Naluri ya?.

 

Hari Perempuan Sedunia


“….Karena Saya Perempuan….” “…فقط لأني إمرأةٌ…”

 

Pagi ini, saya bangun tidur seperti biasanya. Disambut udara dingin Malang yang beberapa hari terakhir terasa menusuk hingga ke bagian terdalam lapisan kulit. Seperti hari-hari kemarin, saya juga masih terbangun dari tempat tidur yang sama, di rumah kos nyaman di dekat stadion Gajayana Malang. Tak ada hal istimewa yang menjadikan pagi ini berbeda dengan hari-hari lain, kecuali jika kata ‘sabtu’ dianggap sakral karena sudah ditasbihkan sebagai hari wakuncar.

Agenda saya hari ini juga tak ada yang terlalu istimewa, hingga sore nanti saat harus menjadi juri fashion show di Matos, saya benar-benar enggan keluar dari kamar. Badan terasa dingin, nggreges, karena beberapa hari terakhir terlalu sering terlelap di penghujung pagi.

Sebenarnya tadi malam sudah berencana untuk menyegerakan tidur, namun telpon seorang sahabat yang masuk sekitar pukul 22.30 WIB dan baru berakhir 70 menit kemudian membuat mata saya kembali enggan berkompromi, padahal rasa kantuk sudah terasa ‘menggigit’ dan badan terus berteriak meminta istirahat. Dari pada bingung, saya putuskan untuk menyelesaikan bacaan ‘Istana Kedua’ nya Asma Nadia, yang tinggal sedikit.

Anda tahu? setengah jam kemudian saya terguguk, menangis tersedu, seakan ikut merasakan sakit hati dan kekecewaan mendalam yang dirasakan Arini, salah satu tokoh fiktif dengan masalah nyata yang mungkin juga dialami oleh sebagian perempuan.

Arini, sosok istri penuh pengabdian dan ibu teladan itu tak kuat menahan tangis dan sakit hati karena suami terkasih, pangeran yang dengannya ia bermimpi untuk terus bersanding hingga maut memisahkan, berbagi cinta dan istana dengan orang lain, ibu tiga anak itu kecewa setelah mendapati dunia indah yang dibangun dengan tetesan keringat dan perjuangan hancur berkeping dalam sekejap. Semoga Allah memberkati para istri yang rela dan ikhlas dipoligami.

Saat menulis di blog ini, saya teringat satu artikel dan cerita yang tak sengaja saya baca ketika berselancar di dunia blog kemarin petang. Terus terang, saya tak memahami semua kata dan kalimat di tulisan tersebut, karena beberapa kata ditulis dengan ‘bahasa prokem’ sehari-hari. Lalu apa yang membuat saya tertarik untuk membaca? Judul tulisan “…hanya karena saya perempuan..”, .”…فقط لأني إمرأةٌ…” Baca lebih lanjut