Menguras Energi


Penyembuhan tipus memang bisa dilakukan dengan cepat dan cukup gampang. Asalkan panas tubuh turun, rasa pusing hilang, berarti kita sudah sehat kembali. Hanya saja, sehat disini bukan berarti kondisi badan sudah fit seperti sediakala, saat sebelum saya dinyatakan terkena tipus.

Buktinya sore ini, saat duduk manis di depan komputer, ada puluhan anak dari salah satu MAN Lamongan yang berkunjung ke kantor, mendatangi saya dan menanyakan berbagai macam pertanyaan seputar kinerja karyawan. Saya, yang memang tipikal orang yang bersemangat menjawab pertanyaan, secara spontan menjawab pertanyaan tersebut. Dari satu pertanyaan muncul pertanyaan lain. Dari 10-an orang siswa yang mengelilingi meja saya bertambah menjadi lebih dari 20. Mereka semakin bersemangat bertanya, dan saya tetap mencoba bersemangat menjawab.

Bagaimanapun, kita tak boleh mematikan rasa ingin tahu seseorang dengan menjawab asal-asalan. Saya mencoba menghargai mereka sebagai tamu perusahaan sekaligus generasi muda yang layak mendapat sedikit ilmu (ceilee) yang saya punya, karena itu saya tak mau setengah-setengah menjawab. Saya jawab dengan memberikan beberapa contoh, joke, dan juga berusaha sedikit memberi motivasi agar mereka ke depan bisa bersikap dan berperilaku sebagai generasi yang berguna bagi bangsa dan negara. Secara, biasanya saya juga yang menerima tamu dan berperan sebagai corong perusahaan. Menjelaskan cara kerja dan bla, bla, bla, lainnya.

Tapi sejak sakit sampai masuk beberapa hari ini, belum sekalipun saya menerima tamu, dan malez juga. Maklum lah, kondisi saya memang belum sepenuhnya fit. Bahkan, menjawab beberapa pertanyaan anak-anak SMA hanya selama 15 menit itu ternyata begitu menguras energi. Keringat dingin langsung keluar, dan rasa hangat muncul dari badan saya. Duuuh, kok sebegitunya seh? Ya Allah, hanya kepada-Mu hamba memohon untuk selalu diberi kesehatan lahir, dan batin.

Sesaat sebelum tamu datang, saya sempat makan di kantin kantor dan berbincang sebentar dengan direktur yang mengatakan proses pemulihan tubuh setelah sakit tipus membutuhkan waktu lama. “Paling enggak kamu butuh waktu sebulan lebih lah, baru bisa fit lagi,” kata si bapak sambil menceritakan pengalamannya saat merawat istri tercinta.

Duh, seandainya temen-temen lain di ruangan juga menyadari…..

kEna TIPUS? kok BISA…..


“Maaf, aku nggak bisa dateng ke acaranya. Lagi sakit nich,” jawabku saat ditelpon seorang temen.

“Sakit apa? pantes, suaranya lemah”.

“Kena tipus nich”.

“Loh, kok bisa?”.

“Ya, buktinya bisa. Nggak usah kaget githu, wong aku sendiri juga kaget. Kok bisa sakit ‘semi serius’ hehehe”.

****

Pertanyaan ‘Loh, kok bisa?’, selalu dilontarkan secara spontan oleh temen-temen yang tau aku sakit. Yach, maklum juga sich klo mereka kaget saat mendapati aku sakit, dan bener-bener sakit. Bukan cuma flu, batuk, ato demam biasa. Tapi kena tipus!.

Aku, yang biasanya selalu disibukkan dengan berbagai kegiatan, harus rela terkapar tak berdaya, doing nothing, istirahat total tal, tal, tal!. Meringkuk rapat di kamar kos yang tak luas, di atas kasur yang keras, dan hanya ditemani my luv bro, Aziz. Duh, kessiiiaaaannya!!.

Sebenernya, pengin banget pulang ke Tulungagung. Cuma ya itu, ngebayangin perjalanan ke rumah, rasanya kepala udah puyeng, perut mual, dan the answer is NO!, I’ve to stay di Malang. Lagian, kalo aku pulang pasti ngerepotin my mom, dan semakin membuat dia capek. meskipun, klo boleh jujur, I miz her so much. Biasalah, anak kos klo lagi sakit pasti inget ama keluarga di rumah, yang terbiasa merawat dan memanjakan kita. hikz, hikz, hikz…

Ada temen yang nyaranin untuk opname. Tapi aku sendiri gak suka ‘bau’ rumah sakit, dan membayangkan suntikan infus. Duh, EnggAKK!!!. 

Selain itu, meskipun kasur di kosku udah keras dan gak layak pake, paling enggak ukurannya jumbo, lha klo di RS? pake single bed githu, pasti aku gak bakal bisa muter-muter pas tidur. (xixixixi….panas tubuh yang tinggi emang ngebuat aku tidur dalam berbagai gaya dan pose 😉 ).

Yang menyedihkan, penyakit yang menyerang usus halus dan disebabkan bakteri Salmonella Thypi ini bisa kambuh (lagi) dua minggu setelah pemberian antibiotik. So, penderitanya memang diwajibkan untuk mentaati setiap perintah dan larangan dokter. Misalnya aja, harus makan makanan yang halus, tidak boleh pedas, mengurangi makanan berserat, dan tentu saja harus menjaga stamina dan menghindari rasa lelah berlebih.

Yang terpenting juga, KEBERSIHAN makanan musti dijaga. Maklum dech, penyebab bakteri itu bisa masuk dan menyerang usus halus, salah satunya emang dari makanan yang kurang higienis. (duuuuh, berarti gw nggak ngejaga kebersihan?!) eits No!. Siapa sich yang mau makan makanan gak higienis? Pasti ga ada yang mau dunk!!. Hanya saja, aku yang emang langganan makanan ‘warung n’ kantin’, emang kudu hati-hati memilih makanan dan higienitasnya. Selain tentu saja, stamina dan imun tubuh yang harus diperhatikan. Sebenarnya, klo badan dalam kondisi fit, pasti dech penyakit itu gak bakal dateng. Dan kalo diinget2 lagi, dua minggu sebelum terkapar sakit, aktivitasku emang meningkat tajam!.

Dalam sehari, aku pernah pergi-pulang dari Malang-Semarang-Tulungagung! (sebenarnya, pengalaman di perjalanan itu mo aku tulis juga di sini, tapi belom sempet). Selain itu, pulang ke Tulungagung malem hari dan balik ke Malang keesokan harinya untuk kemudian langsung bekerja, juga aku lakukan beberapa kali. Belum lagi, pola makanku yang emang berantakan. ya sudah, emang gak salah kalo si tipus itu dateng!. Mungkin itu juga cara Allah mengingatkan aku untuk memperhatikan tubuh pemberian-Nya, menyayangi dan merawatnya sebaik mungkin. Mungkin juga, Dia mencoba ‘menggelitik’ aku untuk melakukan perenungan, yang tak akan bisa aku lakukan saat sehat. Dan, masih banyak kemungkinan lainnya. Yang jelas, ada banyak pelajaran dan hikmah yang seharusnya aku peroleh dari nikmat sakit yang sudah dianugerahkan oleh Sang Maha Kuasa.

****

Datangnya tipus, benar-benar tak bisa aku prediksi sebelumnya. Sebab hari dimana aku sakit, aku tidak merasakan clue ataupun gejala-gejala yang menunjukkan aku akan sakit. Hari itu (Jumat, 4 Januari 2008), aku berangkat ke kantor seperti biasa. Pukul 15.30 WIB, saat mulai rapat redaksi, aku merasa sedikit demam.

“Opo’o Han?,” tanya mas Indra saat melihatku memeluk tubuhku dengan kedua tanganku.

“Nggak tau nih, nggreges,” jawabku.

“Wah, ati-ati, pancaroba. Mau flu tuh,” celetuk rekan yang lain.

Setelah rapat, aku semakin merasa kedinginan dan mematikan salah satu AC. Anita, rekan di samping mejaku berkomentar. “Ah, ente sakit kali. Wong aku lho nggak ngerasa kedinginan, biasa aja hawanya!”.

Aku mengiyakan dalam diam. KArena setelah itu, bukan cuma dingin menggigit yang aku rasakan, tapi juga rasa pusing luarrrr biasa. Bahkan, saat wudhu salat maghrib aku semakin gemetar dan menggigil kedinginan. Begitu juga ketika ruku dan sujud, kepala rasanya seperti dipalu dan dipukul berulang-ulang. Setelah itu, aku bekerja seperti robot. Tak bisa merasa, dan hanya melakukan editing super cepat.

Saking pusingnya, aku pulang kantor lebih sore dan tak ikut rapat malam. Itupun aku minta diantar salah satu rekan kantor. Sampai di rumah, aku langsung tidur dan berharap kondisiku bisa fresh keesokan harinya.

Ternyata, saat bangun untuk salat Subuh, rasa pening dan panas yang aku rasakan semakin menggila. Saat berjalan ke kamar mandi, aku harus berjuang mati-matian, berpegangan ke dinding agar tak terjatuh. Upz!!, bulu kudukku langsung berdiri saat air dingin membasahi tangan dan wajahku. Rasa pening pun semakin bertambah. Heran juga, pagi itu aku bisa kembali ke kamar dengan selamat dan masih sempat  membawa ember (huehehehe, tau kan manfaat ember? yupz!!, untuk menampung semua yang kukeluarkan dari perutku 😉 ).

****

Untung, adekku hari itu ada di Malang. Dia lah yang akhirnya merawatku, membawa ke dokter, dan meladeni celotehanku yang tanpa makna (saking panasnya tubuh, aku ngoceh terus menerus).

“Iya mbak, habis ngomong A langsung pindah ke Z. Coba waktu itu, aku rekam, pasti dech sampen tertawa mendengarnya. Lucu bangetz!!,” katanya.

>>>untung, dia lupa nggak ngerekam. Waaaah, bisa menurunkan pamor dan derajatku tuh…. yach, anyway busway, many thx untuk Aziz, yang dengan telaten menungguiku, menyiapkan segala makanan, dan obat yang aku perlukan. Eits, trus sekarang mengantar dan menjemputku di kantor…