Feed on
Tulisan
Komentar

“Sesungguhnya salatku…hanya untukMu”

Berbuat kebajikan, melakukan hal positif dan menjalankan “sesuatu yang benar” menjadi pekerjaan mudah. Yupz!,mudah bangets. Tapi…..(loh, kok pake tapi…?) bagi mereka yang memiliki sikap bijak dan perilaku baik, yang tak pernah terbebani dan merasa berat saat melakukannya. Berbuat baik dan melakukan yang benar layaknya aktivitas minum dan makan, namun bagi sebagian lainnya…..ehmm….bagaikan paksaan untuk minum obat! beraaaat……. :-D (termasuk saya nih, agak berat berbuat baik. Huehehehe…kalo Anda baca tulisan sebelum revisi ini, bukan bermaksud sombong, tapi tadi menulis pas ngantuks githu ;-) ).

Jika saya (pasti) merasa haus dan lapar saat melewatkan jam makan dan kurang minum, maka si orang baik akan merasa bersalah dan berdosa bila melewatkan kesempatan untuk berbuat kebaikan. Saya pernah bertanya kepada salah satu “spiritual teacher” saya, yang doyan banget membaca. “Apa nggak pernah merasa bosen, tiap waktu kok baca buku?”

“Bosan? Nggak. Malah aneh dan muncul rasa bersalah kalau sehari saja tidak menambah halaman buku untuk dibaca?”

“Sama sekali ndak bosen?, lha dewi aja yang doyan ngemil kadang juga bosen loh…(maksudNa, karna kecapean ngemil terus…. :D :lol: )” Lanjut Baca »

Salam….

wuuuih, iklan bangetz yaaa?! EMMMaaNG!

Bwt temen-temen, rekan, dan pengunjung dunia dewi yang sayaaa hormati (upzz!!….jangan ngebayangin klo saya sekarang sedang berdiri tegak sambil mengangkat tangan layaknya peserta upacara sedang memberi hormat ke bendera merah putih ;-) ), kalo Anda memiliki informasi tempat grosir untuk segala macam aksesoris, seperti bros, gelang, kalung, anting, giwang, de el el, tolong dunk…. saya dikasih tau.. Yaaaa… plizzzz….. ;-) :-)


Workshop PTK

Mendengar dan mendengarkan. Berasal dari satu kata yang sama, namun memiliki arti berbeda. Mendengar menjadi kata kerja yang mewakili fungsi dan tugas salah satu panca indera karunia Allah SWT, telinga. Tanpa harus menjadi ilmuwan dan profesor, saya dapat memastikan semua makhluk Tuhan yang mempunyai dua telinga normal (termasuk saya dan Anda) dapat mendengar. Lanjut Baca »

Ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan),ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan).

Amburadul dan membingungkan. Dua kata itu dilontarkan rekan saya kemarin, mengomentari berbagai peristiwa yang terjadi belakangan ini dan menjadi headline berita di media massa dan elektronik. Mulai tertangkapnya Al Amin Nur Nasution, penetapan Ketua DPRD Surabaya dan rekan sebagai tersangka dalam kasus gratifikasi, keseleo lidah ala Presiden Timor Leste Ramos Horta, segel naskah soal Ujian Nasional (UN) yang robek di Indramayu, klaim Munas Luar Biasa (MLB) yang sah antara PKB kubu Muhaimin dan Pro Gus Dur, hingga banyaknya reality show yang menjual mimpi ‘menjadi kaya dan terkenal’ dengan instan. Lanjut Baca »

.::. Menjadi Ibu….*_*.::.

Kelas 1 SDKelas 1 SDKelas 3 SDKelas 3 SD

Foto Atas: Abdul Sahid dan Nur Hidayah Kelas 1 SD.
Bawah: Mizan Ali dan Muslimah, kelas 3 SD)

21 April 2008 menjadi momen bersejarah. Bukan karena Hari Kartini yang membuat sebagian besar perempuan memiliki alasan tepat untuk tampil beda. Bermake up lengkap dengan sanggul plus kebaya. Rela bangun pagi buta untuk antre di salon, dan tentu saja menyiapkan budget lebih besar hanya untuk penampilan sehari. “Ah, setahun sekali ini”, mungkin itu yang ada di pikiran mereka.

Hari ini bersejarah karena saya resmi menjadi Ibu ;-) !! Ibu dari anak-anak yang cantik (secantik saya :lol: ) dan ganteng. Bukan cuma satu atau dua anak, tapi langsung empat! Alhamdulillah…

Kehadiran mereka, meski hanya lewat foto, menjadi obat mujarab yang mengingatkan saya untuk selalu bersyukur kepada-Nya, meski baru saja melewati hari yang lumayan berat. Oia, saat ini mereka kelas satu dan kelas tiga MI Al Hidayah di Batu.

Doakan anak-anak (asuh) saya selalu sehat, dalam lindunganNya, dapat belajar dengan baik, dan dapat berguna bagi agama, masyarakat, bangsa dan negara :-) ;-)

TOPENG

TOPENGToPENG AYU


Membuka femina-online dan membaca salah satu cerita bersambungnya “TOPENG” sore tadi, membuat saya teringat beberapa koleksi topeng yang sudah lama tak pernah saya kenakan. Selain bosan dan malas harus bergonta-ganti topeng untuk setiap momen berbeda, saya tidak lagi merasakan manfaatnya, atau sebenarnya topeng-topeng tak pernah memberi manfaat sejak awal? kecuali menutupi wajah asli saya?. Yach, whatever lah, yang jelas saya lupa mulai kapan koleksi-koleksi itu tersimpan rapi dan aman dalam kotak yang didesain khusus untuk menjaga agar topeng tak mudah rusak sekaligus mengantisipasi orang-orang yang penasaran dan ingin melihat topeng-topeng itu, memaksa untuk membuka kotak dan mengambilnya. Tidak, tidak akan pernah saya izinkan!

Memang, sekali waktu ada saja orang yang mengamati satu atau dua topeng yang saya pakai dengan lebih cermat, lalu mencoba menirunya. Huh, memang bisa? Dari segi bentuk, mungkin ada yang dapat membuat duplikasi semirip aslinya. Tapi mereka, pemakai topeng duplikasi itu tak akan pernah dapat menyamai penghayatan alami yang muncul secara otomatis ketika saya memainkan peran sesuai bentuk topeng dengan sempurna. Bahkan (mungkin) terlalu sempurna hingga banyak yang berkomentar topeng bagaikan kulit kedua saya. Mendengarnya, saya tidak memprotes, sebaliknya berterima kasih atas penghargaan dan penilaian yang diberikan. Bagaimanapun, penilaian tersebut merupakan bentuk nyata dari sebuah perhatian tulus.

Malam ini, saya membuka kotak dengan kunci khusus. Disebut khusus, sebab satu model kunci hanya diproduksi tunggal atau satu item di dunia. Sungguh eksklusif. Bahkan saya tak dapat membuat duplikasi kunci yang sepanjang hidup akan selalu saya bawa. Begitu juga Anda, atau siapapun yang diberi amanah membawa kunci tersebut. Kecuali sang pencipta kunci itu sendiri, dia berhak mencipta dan membuat kunci-kunci baru dengan master key yang dimilikinya. Lanjut Baca »

Seperti biasanya, (22/4/8 ) saya berangkat ke kantor menjelang pukul 15.00 WIB. Tak ada yang istimewa dengan penampilan saya hari ini, blus item, jins, dengan high heels kesayangan dan tas super gede. Eits, jangan sampe ketinggalan dunk, kacamata! Well, too simple kan?! Nggak neko-neko sama sekali loh.

Tapi tahukah Anda? Sepanjang perjalanan menuju kantor yang berjarak sekitar 2 kilometer, saya menjadi perhatian semua orang yang ada di jalan raya, mulai dari Raya Kawi, Arjuno, Basuki Rahmat, sampe di Sriwijaya. Tak sedikit yang menyapa dengan senyum, hingga beberapa orang melambaikan tangan sebagai tanda salut. Wow!, kalo ada yang berucap salam, berarti kita harus menjawab salamnya dengan lengkap, sebagai penghargaan karena sudah mendoakan. Nah, saya pun membalas salam dan sapaan mereka dengan gaya sama. Senyum dengan senyum, dan lambaian tangan dengan senyuman juga (iiih, masak saya mo melambai-lambaikan tangan. Ntar dikira Putri Indonesia -ngareep :lol: ).

Yang paling seru, saat berhenti di traffic light di Jalan Basuki Rahmat. Semua pengendara motor dan mobil yang menunggu si lampu ijo tak lepas memandang saya. Bahkan saat si merah sudah berganti warna sebagai tanda diizinkan jalan, masih ada beberapa pengendara yang menoleh dan tersenyum. Gosh!!….

Sesampai di kantor, ternyata saya mendapat kejutan yang lebih heboh. Baru saja kaki melangkah masuk ke ruangan, langsung disambut tepuk tangan rekan-rekan yang ternyata dikomandoi oleh Mr Boss. “Wah, selamat ya…akhirnya dipake dan sampe kantor dengan selamat ”. Lanjut Baca »

Dalam setiap diskusi, seminar, atau acara lain sejenis yang membahas tentang perempuan dan kesetaraan gender, selalu terlontar protes tentang minimnya kesempatan yang diberikan terhadap kaum saya ini. Mereka (baca: kami) terlalu sering menuntut untuk diberi kesempatan, agar dihargai, supaya dihormati dan tidak dilecehkan, hingga dapat bersanding sejajar dengan kaum pria.

Saat melontarkan protes, kami terlihat ‘sangar’ karena berani tampil di depan forum dengan semangat membara. Apalagi saat rekan-rekan lain mendukung dengan aplaus panjang atau teriakan setuju (walau mungkin mereka tak mengerti apa yang sudah disetujui), waah, semakin bangga rasanya. Lanjut Baca »